Translate:

Konflik Chad-Libya (Part 3)




Mundurnya pasukan Perancis
Untuk mengakhiri jalan buntu, Gaddafi mengusulkan untuk mundurnya pasukan dari Chad baik pasukan Perancis dan Chad. Usul ini diajukan pada tanggal 30 April. Presiden Perancis, François Mitterrand menerima tawaran itu, dan pada tanggal 17 September, kedua pemimpin mengumumkan mundurnya pasukan akan dimulai pada tanggal 25 September dan akan selesai pada tanggal10 November. Persetujuan ini pada awalnya dikatakan oleh media sebagai bukti kemampuan diplomatik Mitterrand dan pergerakan menuju solusi krisis di Chad.

Sementara Perancis menghormati saat akhir untuk mundurnya pasukan, Libya membatasi untuk mengundurkan diri beberapa pasukan, ketika terdapat paling sedikit 3.000 pasukan berpatroli di Chad utara. Ketika hal ini menjadi jelas, hal ini menghasilkan sebuah kebingungan untuk Perancis dan tuduh menuduh antara Perancis dan pemerintah Chad.

Menurut Nolutshungu, persetujuan bilateral tahun 1984 antara Perancis dan Libya mungkin telah menyediakan kesempatan yang baik untuk Gaddafi untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan Chad, sementara memperbaiki wibawa internasionalnya dan sikapnya dalam kondisi untuk memaksa Habré menerima perjanjian perdamaian yang termasuk wali Libya. Gaddafi salah membaca mundurnya pasukan Perancis sebagai keinginan untuk menerima kehadiran militer Libya di Chad dan secara de facto penggambungan seluruh BET oleh Libya, sebuah aksi yang pasti untuk bertemu semua faksi oposisi Chad dan Organisasi Kesatuan Afrika dan Perserikatan Bangsa Bangsa. Kesalahan besar Gaddafi akan membawa kekalahannya, dengan pemberontakan GUNT melawannya dan ekspedisi baru Perancis pada tahun 1986.


Operasi Epervier
Selama periode antara tahun 1984 dan tahun 1986, tidak ada pertempuran terjadi, Habré dengan hebat memperkuat posisinya untuk dukungan Amerika Serikat dan kegagalan Libya atas persetujuan Perancis-Libya tahun 1984. Hal ini juga meningkatkan percekcokan yang mulai menyerang GUNT sejak tahun 1984, terpusat pada perselisihan antara Goukouni dan Acheikh ibn Oumar atas kepemimpinan organisasi.

Pada periode ini, Gaddafi memperluas kekuasaannya atas Chad utara, membangun jalan baru dan menegakan lapangan udara baru, Ouadi Doum, berarti untuk dukungan udara yang lebih baik dan operasi darat atas Jalur Aouzou, dan membawa bantuan tahun 1985, meningkatkan pasukan mereka di Chad menjadi 7.000 pasukan, 300 tank dan 60 pesawat tempur. Ketika hal ini terjadi, elemen signifikan atas GUNT dioper kepada pemerintahan Habré, sebagai bagian dari kebijakan akomodasi untuk nantinya.

Pembelotan ini menakutkan Gaddafi karena GUNT menyediakan penutup atas hak kekuasaan Libya di Chad. Untuk menaruh halangan untuk hal ini dan menyatukan kembali GUNT, serangan dilancarkan atas garis merah, yang tujuan utamanya adalah N'Djamena. Serangan ini dimulai pada tanggal 10 Februari. 5.000 tentara Libya dan 5.000 tentara GUNT ikut serta dalam pertempuran ini, dan berkonsentrasi atas markas FANT di Kouba Olanga, Kalait dan Oum Chalouba. Kampanye ini berakhir sebagai bencana untuk Gaddafi, ketika serangan balik FANT pada tanggal 13 Februari menggunakan perlengkapan baru dari Perancis memaksa penyerang untuk mundur dan mereorganisasi.

Hal yang paling penting adalah reaksi Perancis atas serangan ini. Gaddafi percaya bahwa karena pemilihan umum yang akan datang, Mitterrand akan enggan untuk memulai ekspedisi yang berisiko dan mahal untuk menyelamatkan Habré. Evaluasi ini dibuktikan salah. Presiden Perancis tidak dapat secara politik berisiko untuk menunjukan kelemahannya atas agresi Libya. Sebagai hasilnya, pada tanggal 14 Februari, Opérasi Epervier dimulai, membawa 1.200 tentara Perancis dan beberapa skuadron Jaguars di Chad. Dua hari kemudian, untuk mengirim pesan yang jelas kepada Gaddafi, angkatan udara Perancis mengebom lapangan udara Ouadi Doum yang menyebabkan balas dendam. Beberapa hari kemudian, Libya mengebom bandara N'Djamena.


Perang Tibesti
Kekalahan diderita pada bulan Februari dan Maret mempercepat kehancuran GUNT. Pada bulan Maret pada pembicaraan yang disponsori Organisasi Kesatuan Afrika dilakukan di Kongo, Goukouni gagal untuk muncul, banyak dugaan tangan Libya menyebabkan penyebrangan dari GUNT atas wakil presidennya Kamougué, diikuti oleh angkatan bersenjata pertama dan originel FROLINAT. Pada bulan August, ini adalah giliran CDR untuk meninggalkan koalisi, menguasai kota Fada. Ketika pada bulan Oktober, Angkatan Bersenjata Rakyat Goukouni berusaha merebut kembali Fada, garnisun Libya menyerang tentara Goukouni, memberikan jalan untuk pertempuran yang ahkirnya mengakhiri GUNT. Pada bulan yang sama, Goukouni ditangkap oleh Libya, sementara pasukannya memberontak melawan Gaddafi, mencabut Libya dari semua posisinya di Tibesti, dan pada tanggal 24 Oktober berbalik kepada Habré.

Untuk mendirikan kembali jalur persediaan dan merebut kembali kota Bardai, Zouar dan Wour, Libya mengirim di Tibesti pasukan sebesar 2.000 orang dengan tank T-62 dan dukungan berat angkatan udara Libya. Serangan ini dimulai dengan sukses, mengeluarkan GUNT dari bentengnya, dan juga penggunaan bahan kimia dan gas beracun. Serangan ini menyebabkan reaksi dari Habré, yang mengirim 2.000 tentara FANT untuk dihubungkan dengan pasukan GUNT. Mitterrand juga bereaksi, memerintahkan sebuah misi yang mengirim bahan bakar, makanan, amunisi dan misil anti-tank yang diturunkan dengan parasut untuk pemberontak, dan juga personal militer. Melalui aksi ini, Perancis membuat jelas bahwa mereka tidak merasa tidak harus tetap berada di garis merah, dan siap untuk beraksi jika memang penting.

Ketika secara militer Habré hanya sebagian sukses dalam usahanya untuk mengusir Libya dari Tibesti (Libya akan meninggalkan daerah itu pada bulan Maret, setelah berbagai kekalahan di timur laut telah membat daerah tersebut tak dapat dipertahankan), kampanye ini adalah strategi hebat untuk FANT yang mengubah perang saudara menjadi perang saudara melawan orang dari negara lain yang menyerang, mendorong kesatuan nasional yang sebelumnya tidak pernah terlihat di Chad.


Perang Toyota
Pada pembukaan tahun 1987, tahun terakhir perang, pasukan Libya masih mengagumkan, berjumlah 8.000 pasukan dan 300 tank, tetapi telah kehilangan dukungan sekutu di Chad, yang biasanya menyediakan mata-mata dan bertindak sebagai infantri penyerang. Tanpa mereka, garnisun Libya mirip dengan pulau yang terisolasi dan mudah diserang di padang pasir Chad. Pada sisi lainnya, FANT dengan hebat semakin kuat dan memiliki 10.000 tentara, memiliki truk Toyota yang dapat bergerak dengan cepat dan beradaptasi dengan pasir dilengkapi dengan misil anti-tank MILAN, yang memberi nama "Perang Toyota" untuk fase terakhir konflik Chad-Libya.

Pada tanggal 2 Januari 1987 , Habré memulai serangannya terhadap Chad utara dengan serangan yang sukses atas basis komunikasi Libya yang dipertahankan cukup baik di Fada. Untuk melawan tentara Libya, panglima besar Chad Hassan Djamous melakukan berbagai pergerakan cepat, menyelubungi posisi Libya dan menghancurkan mereka dengan serangan mendadak dari semua sisi. Strategi ini diulang oleh Djamous pada bulan Maret saat pertempuran B'ir Kora dan pertempuran Ouadi Doum, menimbulkan kerusakan dan memaksa Gaddafi untuk mundur dari Chad utara.

Giliran ini membahayakan kekuasaan Libya atas Jalur Aouzou, dan Aouzou jatuh pada bulan Agustus ketangan FANT, hanya dapat ditaklukan oleh serangan balasan Libya dan penolakan Perancis untuk menyediakan perlindungan udara atas Chad. Habré dengan siap membalas atas kemunduran ini dengan terjadinya pertempuran Maaten al-Sarra yang merupakan serangan pertama Chad atas teritori Libya selama konflik Chad-Libya yang terjadi pada tanggal 5 September. Serangan ini adalah serangan kejutan dan sukses melawan kunci dari lapangan udara Libya di Maaten al-Sarra. Serangan ini adalah bagian dari rencana untuk menghilangkan ancaman kekuatan udara Libya sebelum serangan baru atas Aouzou.

Serangan yang direncanakan atas Aouzou tidak pernah terjadi. Kemenangan didapat di Maaten membuat Perancis takut bahwa serangan di lapangan udara Maten al-Sarra adalah panggung pertama serangan atas Libya yang sebenernya, sebuah kemungkinan yang tidak dapat ditolerir Perancis. Seperti untuk Gaddafi, menjadi pokok atas tekanan internal dan internasional, ia menunjukan dirinya lebih bersifat mendamaikan yang dibawa sebagai sebuah hasil Organisasi Kesatuan Afrika atas gencatan senjata pada tanggal 11 September.


Akhir dari konflik
Sementara terjadi banyak pelanggaran gencatan senjata, insiden yang terjadi relatif kecil. Kedua pemerintahan dengan segera memulai manuver diplomatik untuk menyetir opini dunia atas kasus ini. Pemerintahan Reagan melihat bahwa pembukaan konflik ini adalah kesempatan terbaik untuk menurunkan Gaddafi.[100]

Relasi antara kedua negara terus menerus membaik, dengan Gaddafi memberi tanda bahwa ia ingin menormalisasikan hubungan dengan pemerintah Chad, menuju poin pengakuan bahwa perang itu telah menjadi sebuah kesalahan. Pada bulan Mei tahun 1988, pemimpin Libya menyatakan bahwa ia akan mengakui Habré sebagai presiden Chad "sebagai hadiah untuk Afrika"; hal ini memimpin ke arah pembukaan kembali relasi diplomatik antara kedua negara pada tanggal 3 Oktober. Pada tanggal 31 Agustus 1989, pemerintah Chad dan Libya bertemu di Aljazair untuk menegosiasikan Kerangka Pesetujuan dalam Perdamaian atas Perselisihan Wilayah. Gaddafi setuju untuk mendiskusikan dengan Habré tentang jalur Aouzou dan membawa hal ini keMahkamah Internasional jika pembicaraan bilateral gagal. Setelah setahun atas pembicaraan yang tidak meyakinkan, kedua belah pihak membawa hal ini pada bulan September tahun 1990 ke Mahkamah Internasional.

Hubungan Chad-Libya menjadi lebih baik ketika Idriss Déby yang didukung Libya menggantikan Habré pada tanggal 2 Desember. Gaddafi adalah kepala negara pertama yang mengakui pemerintahan baru, dan ia juga menandatangani perjanjian persahabatan dan kooperasi dalam berbagai tingkat, tetapi Déby menyatakan bahwa ia akan tetap bertempur untuk menjaga jalur tersebut dari tangan Libya.

Permasalahan Aouzou diakhiri dengan baik pada tanggal 3 Februari 1994 ketika hakim di Mahkamah Internasional dengan jumlah 16 banding 1 membuat Jalur Aouzou menjadi milik Chad. Pengadilan atas kasus tersebut dilaksanakan tanpa gangguan. Pada tanggal 4 April, keduanya menandatangani sebuah persetujuan berisi tentang implementasi pengadilan. Dengan diawasi dunia internasional, mundurnya tentara Libya dari jalur dimulai pada tanggal 15 April dan selesai pada tanggal 10 Mei. Transfer terakhir terjadi pada tanggal 30 Mei ketika kedua belah pihak menandatangani sebuah deklarasi gabungan yang menyatakan bahwa mundurnya pasukan Libya telah berhasil.



**Artikel Sebelumnya:

**Artikel mengenai "Konflik Chad - Libya" telah selesai

**Bagi yang mau mendiskusikan tentang "Konflik Chad - Libya" silahkan tinggalkan komentar dibawah

Penulis : Yudo Utomo ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Konflik Chad-Libya (Part 3) ini dipublish oleh Yudo Utomo pada hari Sunday, October 14, 2012. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Konflik Chad-Libya (Part 3)
 
Reactions: 

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...