Translate:

Showing posts with label Campus. Show all posts
Showing posts with label Campus. Show all posts

Keputusan Mengenai IPA-IPS di Januari 2013

Foto : Mendikbud M Nuh/Okezone

Rencana penghapusan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) masih mengundang kontroversi dari berbagai kalangan.  
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengungkapkan, untuk rencana penghapusan IPA-IPS, Kemendikbud memberikan beberapa opsi. Pertama, IPA-IPS ditiadakan untuk kelas 1-6 dan diajarkan melalui pelajaran lainnya seperi Matematika, Bahasa Indonesia, dan PPKN.
 
Kedua, lanjutnya, IPA-IPS hanya diajarkan untuk kelas 4, 5, dan 6. Sementara opsi ketiga, yaitu IPA-IPS hanya diajarkan untuk kelas 5 dan 6.
 
“Tidak benar jika  pemerintah langsung memutuskan. Jadi kami memberikan tiga opsi. Silahkan publik memberi pandangan mana yang lebih prefer dengan alasan-alasannya,” tutur Nuh belum lama ini.
 
Dia menambahkan, keputusan penghapusan atau tidaknya IPA-IPS ini akan diambil pada awal 2013. Untuk pengambilan keputusan tersebut, Kemendikbud akan melibatkan beberapa narasumber, seperti Yohannes Surya, Gunawan Muhammad, dan tokoh pendidikan lainnya.
 
“Awal Januari kita akan melakukan rapat lagi dengan beberapa narasumber untuk memutuskan rencana penghapusan IPA-IPS tersebut,” imbuhnya.
READMORE
 

IT Telkom Juara 1 Kontes Pesawat Tanpa Awak



Institut Teknologi (IT) Telkom Bandung berhasil menjuarai kontes pesawat terbang tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) Indonesia Aerial Robot Contest (IARC) Institut Teknologi Bandung (ITB) 2012.

Tim APTRG dari IT Telkom  menjadi juara pertama IARC kategori perguruan tinggi. Sedangkan alumni IT Telkom, Tim APTRG QC juga berhasil menjuarai IARC untuk kategori umum. Untuk kategori sekolah tingkat SMA, juara pertama berhasil diraih tim Saft 1 dari SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, Jawa Timur.

Selain itu, event yang digelar di Lanud Sulaeman, Soreang, Kabupaten Bandung, juga memperebutkan Award Best Structure yang dimenangi UAC II dari Universitas Nurtanio, Best Efficiency dimenangi Tim Jentayu dari Universitas Diponegoro, Best Pay Load dimenangi Tim Camar 2012 (ITB), Best Presentation dimenangi Tim Sigra Ganesha (ITB), Best Surveillen dimenangi tim Aerobatix.com Lampung.

Seperti diketahui, kompetisi pesawat tanpa awak ini diikuti 26 tim "robot terbang" dari berbagai tempat di Indonesia yang digelar sejak Jumat 2 November lalu. Sebanyak 26 tim terbagi dalam tiga kategori yakni mahasiswa atau perguruan tinggi, siswa setingkat SMA, dan umum. Total hadiah yang dibagikan kepada para pemenang Rp50 juta.

Sedangkan juara 2 untuk kategori perguruan tinggi dimenangkan Garuda Team 5 dari ITS, juara dua kategori umum tim G-Copter dari Universitas Marnatha.

Sementara untuk kategori SMA, tidak ada juara dua. Pasalnya, banyak tim SMA yang gagal terbang. Kalaupun terbang, mereka mengalami crash. Namun ada tiga tim dari SMA yang mendapat hadiah apresiasi. 

Penilaian pemenang dilakukan juri dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan), juri dari Fakultas Teknik Mesin Penerbangan (FTMD) ITB, dan lain-lain.

Ketua Jurusan Aeronautika dan Astronautika FTMD ITB Taufiq Mulyanto mengatakan, event ini tujuan utamanya bukan menghasilkan menang kalah, tetapi berusaha menjaga semangat atau spirit untuk berkreasi khususnya di bidang dirgantara. Untuk itu, proses dan kontinuitas sangat diperlukan supaya event ini bisa terus digelar tiap tahunnya. 

"Tahun depan akan ada lagi. Mari ramaikan IARC tahun berikutnya dengan prestasi dan semangat yang lebih baik lagi. Sehingga untuk memajukan dirgantara di Indonesia bisa terlaksana," kata Taufiq.
READMORE
 

Dari S-1 Sampai S-3, Pasangan Ini Selalu Lulus Cumlaude

Foto : Unair


Siapa bilang pacaran ketika kuliah hanya bisa membuat nilai kita jelek? Nyatanya, adajuga pasangan mahasiswa yang justru bersaing sehat hingga akhirnya berhasil lulus dengan nilaicumlaude.
 
Mereka adalah Martin Suryana dan Suhartati. Pasangan ini menjalani kuliah S-1 dan S-2 bersama-sama di Fakultas Hukum Universitas Surabaya (Ubaya). Tidak puas, mereka kembali meraih gelar doktor bersama dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Sejak S-1 hingga S-3, mereka berdua selalu lulus dengan predikat cumlaude. Prestasi ini membuat nama Martin dan Suhartati masuk dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai “Pasangan yang Menempuh Studi Bersama-sama Sejak S-1, S-2, dan S-3 dengan Sama-sama Meraih Predikat Cumlaude.”

Martin menyebut, meski berpacaran, keduanya selalu berkompetisi secara positif dalam mendapatkan nilai terbaik. ”Walaupun terus bersama-sama, jangan dikira kami conto-contoan. Justru kami berkompetisi untuk meraih nilai yang lebih baik. Kadang saling meledek juga. Jadi kami berdua benar-benar berkompetisi,” ujar Martin Suryana, seperti disitat dari situs Unair, Senin (29/10/2012).

Pasangan suami istri tersebut meraih gelar doktor dalam waktu studi yang cukup singkat, yakni 2,3 tahun. Martin meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,86 sedangkan sang istri hanya terpaut tipis 3,85.

Ayah dua anak itu lulus dengan mempertahankan disertasi berjudul “Transplantasi Organ dan atau Jaringan Tubuh Manusia dalam Perspektif Hukum Pidana.” Sementara Suhartatik yang merupakan dosen FH Ubaya itu mempertahankan disertasi yang berjudul ”Alternative Remittance System Dalam Perspektif Hukum Pidana”.

Pria yang berprofesi sebagai advokat dan konsultan hukum itu mengaku sama sekali tidak terpikir atau berharap suatu saat akan meraih rekor MURI. Mereka berdua tidak melakukan upaya kesengajaan untuk mengarah pada predikat mengukir rekor tersebut. Berawal dari saran, masukan, dan desakan teman-teman atas prestasi dan perjalanan studi mereka, maka keduanya pun mengusulkan prestasi ini kepada MURI dan mendapat persetujuan dari pihak MURI.

Motivasi utama Martin mengusulkan prestasi ini ke MURI adalah untuk menunjukkan status suami-istri tidak menghalangi sesoeorang untuk berprestasi. Mereka justru bisa saling memberi motivasi dan mendorong untuk meraih prestasi. “Justru motivasi inilah yang ingin kami bagikan kepada orang lain,” tuturnya.

Pasangan ini sepakat meningkatkan status mereka dari pacaran menjadi ikatan perkawinan setelah lulus S-2 dari Ubaya pada 2001. Saat ini, pasangan suami istri tersebut telah dikaruniai dua orang anak, yakni Clifford Breva Suryana (9) dan Clarence Amabelle Suryana (6).
READMORE
 

Mahasiswi & Gadis Muda Pelelang Keperawanan

Atas: Catarina Migliorini, Natalie Dylan, "Ungirl"; bawah: Rosie Reid, Alina Percea. (Foto: The Frisky)


Pada beberapa tahun terakhir, berita tentang perempuan-perempuan muda yang melelang keperawanannya santer menghiasai media massa. Alasan mereka melakukan hal ini pun bermacam-macam, mulai dari mencari dana untuk membiayai pendidikan, mencari donasi untuk membangun rumah bagi kaum miskin, atau sekadar mencari uang dengan cara mudah. 

Graciela Yataco, model dari Peru ini memulai tren lelang keperawanan pada 2005 lalu. Waktu itu, Yataco, yang masih berusia 18 tahun, mencari uang untuk membiayai pengobatan ibunya dan menghidupi adik laki-lakinya. Seorang lelaki Kanada menawar keperawananan Yataco seharga USD1,5 juta atau setara dengan Rp14,4 miliar (Rp9.605 per USD1). Namun, Yataco akhirnya mengundurkan diri dari lelang tersebut. 

Sejak saat itu, banyak gadis muda, termasuk para mahasiswi, melelang keperawanannya dengan berbagai alasan. Berikut daftar mahasiswi yang melelang keperawanannya, seperti dilansir The Frisky, Minggu (28/10/2012).

1. Catarina Migliorini 

Gadis asli Brazil berusia 20 tahun ini berhasil melelang keperawanannya seharga USD780 ribu atau setara dengan Rp7,4 miliar. Mahasiswi Pendidikan Jasmani ini mengaku, menjual keperawanannya untuk tujuan mulia. Migliorini berkata kepada media, dia berencana menyumbangkan 90 persen uang yang diperolehnya untuk proyek pembangunan rumah di Santa Catarina, Brazil.

2. Natalie Dylan 

Natalie Dylan, pemegang gelar sarjana kajian dalam Studi Wanita dari negara bagian Sacramento, Amerika Serikat (AS), ini menjual keperawanannya untuk membayar biaya kuliah. Kabarnya, penawaran atas keperawanan Dylan mencapai USD3,7 juta (Rp35,5 miliar). Tetapi, menurut organisasi yang menangani lelang ini, transaksi tersebut tidak pernah direalisasikan. Meski demikian, Dylan tetap mengantongi USD250 ribu (Rp2,4 miliar). 

3. "Ungirl"

Perawan dari Selandia Baru ini baru berusia 19 tahun. Dia mengikuti jejak Dylan dan melelang keperawannanya pada sebuah situs dengan nama samaran "Ungirl". Setelah menerima sekira 1.200 tawaran, dia menerima tawaran pada angka USD32 ribu (Rp307,3 juta), yang menurutnya adalah jauh di atas perkiraannya. 

4. Alina Percea

Remaja Rumania berusia 18 tahun, Alina Percea, melelang keperawanannya untuk membiayai studi Ilmu Komputer yang akan diambilnya. Pengusaha Italia berusia 45 tahun berani membayar USD14 ribu (Rp134,4 juta) untuk keperwawanan Percea. Gadis ini mengaku, menikmati pengalamannya tersebut. 

5.  Rosie Reid

Seorang lesbian dari Inggris, Rosie Reid, memutuskan untuk menjual pengalaman seksual pertamanya seharga USD13 ribu (Rp124,8 juta) untuk membiayainya masuk Bristol University. Pembelinya? Setelah 2.000 penawar, insinyur berusia 44 tahun dan duda dengan dua orang anak berhak atas keperawanan gadis berusia 18 tahun itu. Rosie menyesali keputusannya ini. Setelah transaksi berlangsung, dia dan pasangan lesbinya, Jess Cameron, tidak berhenti menangis. 

6. The Gumtree Girl
Seorang gadis berusia 16 tahun yang tidak disebutkan namanya ini ingin mendapatkan sejumlah uang dengan melelang keperawanannya. Gadis ini merupakan siswi sekolah katolik di Irlandia, dan berencana menggunakan uang itu untuk membiayai sekolah seni. Seorang jurnalis yang menyamar setuju untuk membayar keperawanannya seharga USD10 ribu (Rp96 juta), untuk mencari tahu apakah iklan lelang yang dibacanya sebuah penipuan atau bukan. Gadis dalam iklan memang seperti apa yang disampaikannya, namun ketika reporter itu membuka identitasnya, gadis tersebut pun mengaku hanya bercanda dengan iklan lelangnya.
READMORE
 

Bahasa Inggris SD akan Dihapus

Siswa sekolah dasar (Foto: Dok. Okezone)


Pembahasan kurikulum baru memasuki babak baru yakni mata pelajaran Bahasa Inggris akan dihapus dari jenjang Sekolah Dasar (SD), terutama kelas 1 hingga kelas 3.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan, alasan utama menghapus Bahasa Inggris dari kurikulum jenjang SD ialah karena di tingkat sekolah paling dasar anak-anak membutuhkan pembelajaran Bahasa Indonesia yang belum tentu mereka lafazkan huruf-hurufnya dengan baik dan begitupula apa arti filosofis dibelakangnya.

Dia mengaku kasihan jika siswa siswi yang masih di bawah umur ini dibebani mata pelajaran Bahasa Inggris karena beban pelajaran mereka akan semakin berat. “Bahasa Inggris itu selama enam bulan saja dia bisa mengerti. Anak TK saja dipaksa ikut les Bahasa Inggris, kalau bahasa kasarnya itu haram sekali hukumnya. Kasihan anak-anak,” jelasya usai Pelaksanaan Kegiatan TOT Pembangunan Karakter Bangsa pada Guru dan Kepala Sekolah melalui Kebudayaan di Jakarta, Rabu (10/10/2012).

Mantan Rektor Universitas Andalas (Unand) Padang ini menambahkan, kebijakan penghapusan Bahasa Inggris ini akan menjadi wajib di sekolah negeri. Bahkan Sekolah yang berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang 80 persen proses pengajaran seluruh mata pelajarannya memakai Bahasa Inggris harus mengikuti kurikulum yang baru ini. Sementara untuk di sekolah swasta dan sekolah internasional Musliar mengaku belum ada pengkajian secara khusus apakah mereka ikut dilarang juga. Namun yang pasti seluruh sekolah harus mengikuti kurikulum yang dibuat pemerintah. 

Mantan Irjen Kemendikbud menambahkan, pembahasan kurikulum baru ini masih berjalan dan ditargetkan selesai akhir tahun. Isu yang berkembang para pakar yang tergabung dalam tim penyusun mengusulkan penyederhanaan mata pelajaran di SD hanya menjadi enam mata pelajaran saja. Musliar menyebutkan, keenam pelajaran itu ialah Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Matematika, Bahasa Indonesia, Seni dan Budaya serta Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes). 

Jika sebelumnya mata pelajaran IPA-IPS akan dilebur menjadi Ilmu Pengetahuan maka Musliar menyebutkan kedua mata pelajaran itu akan tetap ada namun tidak menjadi satu mata pelajaran akan tetapi diintegrasikan ke enam mata pelajaran yang menjadi mata pelajaran wajib tersebut. “Jadi seperti di Bahasa Indonesia, pelajar bisa mempelajari halilintar atau hujan sambil belajar membaca. Jadi IPA akan menjadi penggerak atau motor bagi mata pelajaran lain,” lugasnya.

Musliar juga mengaku, selama ini pelajaran Bahasa Indonesia kurang bermakna. Dia mencontohkan, metode membaca "Ini Budi Ini Ibu Budi" masih dipakai sampai sekarang padahal makna dari kalimat itu saja tidak terkorelasi dengan pelatihan otak kanan dan kiri siswa. Oleh karena itu, jelasnya, jika diintegrasikan dengan IPA-IPS mata pelajaran yang lain akan menjadi hidup dan tidak membosankan. Musliar menjelaskan, siswa SD itu kompetensi yang diperhitungkan adalah Baca Tulis dan Hitung (Calistung) sehingga tidak perlu mempelajari ilmu pengetahuan yang terlalu tinggi. 

Musliar menambahkan, kementerian dan para pakar sudah menyepakati kelas satu, dua dan tiga di tahun ajaran baru 2013-2014 sudah akan memakai kurikulum baru. Namun keduanya masih berdebat perlukah kelas empat, lima dan enam juga menerapkan kebijakan yang sama mengingat siswa di kelas ini sudah besar. “Ini sedang didiskusikan, yang disepakati kelas 1 sampai 3 hilang, yang belum itu kelas 4 sampai 6. Banyak pakar yang katakan hilangkan saja di semua jenjang, ada yang berpendapat jika tidak diintegrasikan per jenjang akan sulit,” ujar Musliar.

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistiyo berpendapat ada benarnya juga Bahasa Inggris dihapus untuk mengurangi beban siswa. Disamping itu Bahasa Indonesia juga penting untuk ditingkatkan karena statusnya sebagai bahasa Negara dan identitas nasional. Dia juga mengapresiasi penghapusan itu karena dalam kurikulum nasional tidak tercantum Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib namun sekolah memasukkanya dalam muatan lokal (Mulok) saja. 

Anggota Komite III DPD ini tetap meminta membuat alternatif lain supaya siswa tetap dapat menguasai Bahasa Inggris karena sifatnya yang sudah menjadi bahasa pergaulan internasional. “Saya mengerti, kalau ganti menteri itu pasti ada ganti kebijakan supaya ada karakteristik yang khas dari setiap periode. Namun kami harap visi dan misi dari perubahan kurikulum ini sebagai upaya untuk menghasilkan generasi emas,” jelasnya.
READMORE
 

Pendidikan IPS Mulai Bergeser



Saat ini, pengertian dan rumusan tujuan pendidikan ilmu pengetahuan sosial (IPS) sudah sangat umum. Semua pihak yang berkepentingan dengan pendidikan IPS pun sudah sepakat dan tidak ada perbedaan persepsi. Akan tetapi dalam pelaksanaannya ternyata timbul berbagai versi dan pandangan yang kecenderungannya tidak kontekstual dan kurang sinkron dengan maksud dan tujuan pendidikan IPS. 

Demikian, disampaikan Mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sardiman dalam Dies Natalis ke-47 FIS UNY, belum lama ini. Dalam orasi ilmiahnya, Sardiman pun menegaskan beberapa hal untuk meneguhkan kembali jati diri IPS. "Pertama, IPS merupakan salah satu pelajaran dasar di jenjang pendidikan persekolahan. Kedua, pendidikan IPS di sekolah merupakanintegrated social sciences," papar Sardiman, seperti dilansir dari situs UNY, Senin (24/9/2012).

Ketiga, lanjut Sardiman, seiring dengan pendekatan integrated yang kemudian dilaksanakan melalui pembelajaran yang tematis, maka unsur-unsur atau bidang-bidang keilmuan yang dipadukan dalam mata pelajaran IPS dapat lebih banyak. "Tidak hanya geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi tetapi cabang-cabang ilmu sosial lain, seperti humaniora, bahkan juga ilmu-ilmu kealaman, dan teknologi," tutur pria yang menjabat sebagai dekan selama dua periode tersebut.

Keempat, kata Sardiman, dalam hal tujuan di samping beberapa tujuan yang telah dirumuskan di atas, perlu ada kerjasama dan pembagian tugas dengan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Kelima, terkait dengan standar isi IPS pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis materi keilmuan sehingga melahirkan pembelajaran yang intelektualistik. "Perlu dilakukan revitalisasi bahkan restrukturisasi dengan menggunakan teori rekonstruksi sosial berbasis karakter," imbuh Sardiman.

Keenam, tambahnya, untuk memantapkan jati diri IPS perlu ada praktik IPS dan Laboratorium IPS. "Ketujuh, perlu kita sadari bahwa FIS adalah salah satu fakultas dari LPTK. Oleh karena itu, sebagaicore bisnisnya adalah ilmu-ilmu sosial yang diajarkan di sekolah (ilmu-ilmu sosial kependidikan), kemudian diberi sparing partner ilmu-ilmu sosial yang non-kependidikan," tukasnya.
READMORE
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...