Translate:

Pelaku Tawuran harus Dipenjarakan



Pernyataan tegas dilontarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh dengan meminta siswa pelaku tawuran harus dipenjarakan. 

Mendikbud mengatakan, meskipun pelaku tawuran itu masih anak-anak dan keberadaan mereka pun dilindungi oleh UU Perlindungan Anak namun tindakan mereka yang sudah melakukan kekerasan hingga menelan korban sudah tidak dapat ditoleransi lagi. Para pelaku ini meski masih pelajar namun sudah dianggap sebelum waktunya sehingga hukum dapat menyentuh para pelaku kekerasan ini. 

"Salah harus dihukum. Tidak peduli itu anak-anak," katanya usai acara Pemberian Penghargaan MURI bagi Bahan Ajar Berbentuk Animasi di gedung Kemendikbud.

Mendikbud menjelaskan, sanksi mulai dari pemecatan dan pemenjaraan akan menjadi shock therapy bagi yang lain sehingga tidak melakukan kesalahan yang sama. Dia menekankan, masih adanya tawuran ini karena kasus-kasus sebelumnya selalu berakhir di meja diskusi untuk membahas mengapa tawuran itu bisa terjadi dan hanya mencari solusi namun kini pemerintah menyatakan hokum harus ditegakkan dengan mengadili siapa pun yang bersalah.

Dia menyatakan, ada tiga hal yang harus dilakukan untuk menyudahi kasus tawuran di dunia pendidikan selain penegakan hukum, yaitu penegakkan hukum di internal sekolah dan perkuat kerjasama antarkedua sekolah yang bertikai. Oleh karena itu, pemerintah segera akan mengevaluasi secara komprehensif sekolah yang terlibat tawuran. Tidak hanya pada siswa, seluruh pihak baik itu alumni, guru, hingga kepala sekolah akan dievaluasi. 

"Sekolah itu kan institusi, jadi yang salah itu orangnya, bukan sekolahnya. Siapapun yang terlibat, entah alumni, guru, dan kepsek akan dievaluasi. Besok malam (2/10) akan kami kumpulkan kepala sekolah di Jakarta di Hotel Sultan," terangnya.

Anggota Komisi X DPR Ferdiansyah berpendapat, pemerintah pusat dan daerah harus berani memberikan sanksi tegas termasuk juga penghargaan pada sekolah penerima bantuan dari APBN dan APBD yang mampu meminimalisasi aksi tawuran di kedua sekolah itu yang telah terjadi turun temurun. Dia menjelaskan, sanksi dan penghargaan harus diterapkan dalam masalah ini sebagai konsekuensi logis dari apa yang telah dikerjakan oleh kepala sekolah selama dia menjabat. Pecat kepala sekolah atau hentikan bantuan bagi sekolah yang tak berhasil menekan angka tawuran. Dan sebaliknya, beri penghargaan jika aktivitas tawuran di wilayah itu dapat berkurang drastis dan kemudian perlahan-lahan hilang dengan memberikan tunjangan satu kali gaji pokok untuk kepala sekolah.

Pengamat Pendidikan Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen menyayangkan, peningkatan anggaran pendidikan yang belum menunjukkan dampak signifikan pada kecerdasan peserta didik. Hal itu terjadi lantaran belum tepatnya alokasi dana dan  program  yang dijalankan oleh pemerintah. Dia mengatakan, anggaran pendidikan yang sudah dipatok 20 persen hanya menyentuh akses pendidikan namun belum menyentuh system pembelajaran dan evaluasi yang tidak member ruang bagi berkembangnya nalar.

Abduhzen menambahkan, tawuran pelajar terjadi karena efek dari kegelisahan masyarakat khususnya generasi muda terhadap kondisi sosial dan politik yang terjadi di tengah masyarakat. Semua diperparah dengan belum mampunya  sistem pembelajaran dan evaluasi pendidikan dalam rangka memberi ruang berkembangnya nalar peserta didik. 

"Pendidikan itu ialah subordinasi dari sistem sosiopolitik yang berkembang di Tanah Air. Oleh karena itu apa yang terjadi di dalam dunia pendidikan tak terlepas dari apa yang terjadi dalam sistem kerja lingkungan yang melingkupinya," ujar Abduhzen.

Budayawan sekaligus pendiri Museum Rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana sependapat dengan Mendikbud, bahwa tidak ada kompromi dan toleransi bagi siapa pun yang melakukan tindak kriminal, seperti pembunuhan. Meski tindak kriminal tersebut dilakukan pelajar di bawah umur. 

"Tawuran itu dianalisa, bagaimana memalukannya, mengerikannya, tidak ada toleransi, itu harus dihukum, tidak boleh ada kompromi," tegasnya. 

Masyarakat harus menyadari, bahwa generasi muda merupakan calon pemimpin bangsa. Jika sejak muda memiliki karakter suka kekerasan maka tidak bisa dijadikan pemimpin di masa depan.

Penulis : Yudo Utomo ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Pelaku Tawuran harus Dipenjarakan ini dipublish oleh Yudo Utomo pada hari Wednesday, October 3, 2012. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Pelaku Tawuran harus Dipenjarakan
 
Reactions: 

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...